Berharga
Berharga
Jum’at, 10/04/2026
Sore itu
langit mendung, tampak beberapa bekas piring kotor tergeletak di sudut ruangan,
entah berapa sejak piring tersebut tergeletak, yang pasti, pemilik rumah tidak
tergerak untuk membereskannya, mungkin besok, mungkin pekan depan ia bereskan.
Mendung itu
mungkin gambaran dari gadis kecil di balkon rumah, sudah sepanjang hari ia
duduk menerawang jauh ke depan, pikirannya menuju orang tua, kakak juga
adiknya. Tinggal di perantauan menyenangkan sekaligus menyebalkan, keputusan
untuk tinggal menyendiri di kota ia pikirkan matang matang, sebelum akhirnya ia
kembali meratapi nasib mendatang.
Angel namanya,
gadis mungil dengan paras rupawan ini pemilik rumah kosong ini, tinggal
sendirian di rumah kapasitas tiga orang sengaja ia pilih, entah apapun
alasannya, pertama kali melihat rumah ini, ia langsung sepakat untuk mengontrak
dan mengiyakan peraturan yang diberikan induk semang.
Senang sekali
ia menghabiskan seharian di balkon rumah petak dua lantai tersebut, terutama
sore hari saat burung gereja lewat, rutinitas harian yang ia hafal dari burung
tersebut, sedikit demi sedikit Angel paham bahwa burung gereja selalu terbang
menuju timur, menjauh dari mentari yang sebentar lagi terbenam, “mencari
cahaya” pikirnya.
Mentari
terbenam, inilah bagian yang ditunggu, ketika semburat merah terpancar jelas di
langit, ufuk yang menyala seakan memberi tahu dunia bahwa sebelum kegelapan
datang, ada cahaya yang amat cantik terpancar di langit. Namun kebanyakan
manusia melewatkan momen indah ini, dan angel akan mengulang pikiran yang sama
“Sebelum gelap, langit berada di momen paling cantik, mirip denganku”.
Pergelutan di
pikiran itu tidak pernah selesai sejak 4 tahun yang lalu, lagi dan lagi seluruh
momen yang menyakitkan terlintas di kepalanya, bahkan sampai saat ini, ketika
ia memandangi langit merah yang ke seratus kalinya.
“Tak apa, kamu
pasti melewatinya, pasti, yaa pasti” ucap nya dalam diam sambil mengeratkan
kedua tangannya.
Langit gelap
sempurna, sahut menyahut adzan sudah hilang dari pendengaran, saat yang tepat
baginya masuk rumah sembari mengelap sisa air mata.
Tring, tring,
tring
Dering hape
terdengar, dering yang sama, dering yang memberikan ia trauma membuka hape,
dering dari papah. Satu, dua, tiga, empat, lima amel berhitung, menunggu sampai
dering selesai, tiga menit berlalu, dua telepon dari papah masih belum ia
jawab, tepatnya belum berani untuk mengangkat, telepon ketiga datang dua menit
setelahnya, Angel tak bisa mengelak, mengumpulkan sisa tenaganya untuk
menggeser tanda hijau keatas.
“KAMU ANAK
GABERGUNA” suara bentakan terdengar
“Liat anaknya
temen papah, dia udah kerja di tambang, kamu keluyuran ga jelas!” lanjut suara
di telepon
Beep, beep,
beep
Angel tak
kuat, ia langsung memutus telepon, sejak awal ia sudah bersiap, namun berapa
kalipun ia mendengar bentakan dari orang tuanya, ia tak sanggup, tak sanggup
untuk menerima hujatan yang membandingkan, meminta dan menuntut ia menjadi anak
yang berguna. Angel memeluk bantal nya erat, tak ingin tangisnya terdengar oleh
siapapun, tidak untuk dirinya sendiri.
“Malam ini
melelahkan, seperti malam malam lainnya dalam hidup” begitu ia tulis di buku
harian meja belajarnya, untuk kemudian beberapa menit ia terlelap dalam
lelahnya.
Esok paginya
ia bersiap sekolah, dua minggu sebelum ujian masuk perguruan tinggi, tentu
tidak mungkin ia lewatkan seharipun demi menggapai jurusan yang ia inginkan,
piring kotor masih menumpuk, ia memasak mie, menghiraukan tumpukan piring yang
menggunung “nanti saja kalau sudah habis mangkok dan piringku” pikirnya.
Entah kapan
Angel makan dengan benar, rutinitasnya terlalu melelahkan, energinya tak
sanggup untuk menopangnya memasak yang layak, sekadar mie rebus dan telur
menjadi pilihan baginya yang tinggal sendirian.
Melahap mie
memang nikmat, sangking seringnya makan mie, ia lupa bahwa hari ini jadwal Try
Out, wajar, pikirannya tak fokus, yang penting ia sarapan pikirnya.
Tak banyak
teman yang tahu ia tinggal sendirian di kota besar ini, terhitung jari temannya
yang pernah main ke rumah, sesekali ia ajak teman baiknya menginap, untuk
sekadar berbagi mie hangat bersama, untuk kemudian dijadikan alasan menolak
telepon dari papahnya karena ada teman.
Sekolah
selesai pukul 2 petang, bergegas Angel menuju motor yang terparkir.
Tring, tring
tring
Dering itu
lagi, ia cepat mengetik pesan bahwa ia dalam perjalanan pelajaran ekstra
persiapan masuk perguruan tinggi.
Dering hilang,
angel bernafas lega, ia tak harus membolos pelajaran ekstra hari ini agar
temannya tidak melihat bekas air mata di wajahnya. Kunci motor ia tempelkan
keseribu kalinya di motor kesayangan.
Perjalanan ia
lalui seperti biasa, “kemacetan yang sama” pikirnya. Lampu berpendaran dari
tiap kendaraan kadang membuatnya pusing. Samar, ia melihat dompet biru di
parkiran minimarket, sejenak ia terpikir membeli roti tawar untuk esok hari.
Depan kasir
seorang wanita paruh baya mengoceh panjang lebar, angel memerhatikan seksama,
terlintas di kepalanya sesuatu.
“Mungkin ini
yang anda cari” ucapnya lembut
Seribu
terimakasih keluar dari mulutnya, Angel menjawab sekadarnya lanjut mencari roti
yang ia hendaki.
TINNNNNNNNNN
Angel yang
sedang menyetir tersadar dari lamunannya di jalan, hampir saja tagihan rumah
sakit melayang padanya, bagaimanapun banyak hal dalam pikirannya, termasuk
ucapan wanita paruh baya tadi “terima kasih, tak tahu kedepannya kalau dompet
ini hilang, ini sangat berharga”
Dering hape juga terpikir olehnya, namun ia
sadar dan segera meminta maaf kepada mobil yang hampir ditabraknya karena ia
melamun, pikirannya teralihkan dengan bayangan langit merah yang akan ia
nikmati sore itu.
Bak ratu yang
memiliki titah kepada ajudannya, ia bertitah kepada diri sendiri untuk membuka
buku hariannya setiap ia memandangi langit, menulis sesuatu apapun itu. Dan
itulah sebabnya ia memahami burung gereja yang mengarah ke Timur, catatan di
buku harian membantunya memahami dan mengurai kejadian yang dialami tiap hari.
Balkon menjadi
tempat istirahat sejenak setelah hari yang menguras energi fisik dan mentalnya,
buku harian menjadi teman baiknya, ia menulis apapun yang terlintas
dipikirannya, bunyi kicau burung, warna merah di ufuk yang aduhai, atau bahkan
sekelompok pekerja yang pulang di kejauhan.
Langit gelap
sempurnya, saatnya berlindung dari dinginnya udara malam.
Tring, tring,
tring
Dering dari
hapenya seperti malaikat maut yang harus selalu ia hadapi, sekali lagi, ia
tunggu sembari berhitung, nafasnya makin cepat, hilang sudah kesenangan yang
baru saja ia dapatkan dari indahnya langit senja.
“Angel, ANAK
TAK BERGUNA KAMU YA!”
Deg....
pembukaan yang selalu ia hafal, namun tetap saja rasanya sakit di hati
“Berani
beraninya telepon papah ga kamu angkat”
“iya pah,
maaf” jawabnya lirih
“Kamu harus
ambil jurusan bisnis, lanjutkan bisnis papah, HARUS, WAJIB!, kalau ngga, kamu
ga papah kasih uang buat tinggal sendiri lagi!”
Beep beep beep
Tangis angel
pecah, kalimat terakhir itu benar benar menusuknya, kalimat yang menjadi alasan
ia selalu mengangkat telepon papahnya seberapapun menyakitkan kalimat yang
diucapkan orang tuanya.
Kamarnya
bergetar, bantal tak sanggup menahan kucuran air matanya, langit malam
menggelegar, ia tak sadar persis meninggalkan balkon angin menjadi lembap dan
semesta menyertai tangisannya malam itu.....
Senyum Angel getir
pagi itu, teringat kemarin membeli roti untuk sarapan, juga perkataan orang
lain ‘dompet ini berharga’.
“bahkan benda
mati bisa lebih berharga dibanding nyawaku” ucapnya pelan.
“Kamu kuat
kok... iyakan?” ucapnya lagi
“Atau? Emang
ga berharga? Ahaha”
Piring kotor
makin menumpuk, agaknya sekali tersenggol, berseraklah rumah dua lantai dengan
balkon itu, namun, tentu pemilik rumah tidak peduli, bahkan plafon rumah penuh
dengan sarang laba laba, bagi Angel ada yang lebih penting untuk saat ini,
menjalani rutinitas sekolah, ujian dan masuk perguruan tinggi.
Bel berdentang
untuk yang ke-seribu kalinya bagi sekolah itu, tak ayal anak gadis berparas
lembut ini bergegas memacu motornya untuk yang kesekian kali menuju toko
bangunan, beberapa barang ia beli untuk kemudian ia pulang dengan basah kuyup
hujan.
Rumahnya
sunyi, pun tak ada jadwal belajar untuknya sore ini, ujian sudah depan mata, ia
hanya butuh balkon itu bersamanya.
Duduk di
balkon sembari membuka buku hariannya, ia terpaku pada tulisan yang tak sengaja
ia tulis di sekolah “kalau aku hilang, bakal ada yang nyari ga ya?”. Senyum
getir hinggap, mungkin itu alasan kenapa ia pergi memberi barang aneh itu.
Langit
memerah, favoritnya, burung gereja saat itu terlihat aneh seakan memutari
rumahnya, tidak ke Timur, namun tidak ke Barat, “apakah mungkin faktor hujan”
batinnya. Langit merah ia adalah langit terindah sebelum gelap.
“Terima kasih
dunia, sampai jumpa” ucapnya senja itu dalam buku harian.
Tring tring
tring
Hape berdering
Langit tetap
merah seperti hari-hari sebelumnya saat itu, Namun, kali ini tidak ada
seseorang yang menatapnya dari Balkon rumah dua lantai tersebut.
Komentar
Posting Komentar