Apakah Aku Memiliki Kesadaran?
Hari demi hari terlewati, sadar tak sadar, lebih dari 1000 matahari telah terbit dan terbenam selama kita hidup, ada yang diamati, lebih banyak yang terlewati. Hidup dipenuhi dengan mimpi. “Bercita-cita menjadi seorang astronot impianku” kata Wahri, seorang bocah umur 6 tahun di bangku sekolah dasar. “cita-citaku menjadi seorang pemadam kebakaran” kata Bege seorang siswa sekolah dasar. Namun apakah kita tahu bahwa ada bahaya di depan mata yang mengancam kelangsungan mimpi-mimpi kita?
Apa bahayanya? Bukan, bukan batu
yang ada di tengah jalan, bukan juga sebuah bilah kayu yang menancap di kaki
semasa kecil. Masalah itu ialah kesadaran.
Dari usia balita sampai tua nanti,
manusia selalu mendapatkan masalah. Mau tak mau, sadar tak sadar, namun cara menghadapi
masalah di setiap rentang usia berbeda caranya. Batita menyelesaikan masalahnya
dengan mengandalkan orang tuanya, balita lain lagi caranya, orang tuanya mulai mengajarkan
tentang solusi dari sebuah masalah sembari dituntun.
Sembari belajar solusi, anak sekolah
dasar mulai berinteraksi dengan sesama, mendapatkan masalah, dan terdapat dua
pilihan, mengadu kepada orang tua, atau menyelesaikannya sendiri. Dalam banyak
situasi, tentu mayoritas memilih untuk mengadu kepada orang tuanya dengan
alasan apapun itu. Belum sempurna kebijaksanaan seorang siswa Sekolah Dasar
untuk menyelesaikan masalahnya.
Masa Sekolah Menengah merupakan
salah satu masa penentuan dari masalah kesadaran.
Sekolah menengah menjadi satu ajang manusia untuk mencari jati diri, siapa ia
didunia? Siapa dirinya di antara teman-temannya? Apa yang ia punya? Dan pertanyaan-pertanyaan
lain seputar hakikatnya hidup di dunia. Dari caranya menyelesaikan masalah,
terlihat bagaimana sifat yang sedang ia latih, mungkin belum se-bijak orang
dewasa, namun akalnya selalu dengan cepat memikirkan sebuah solusi terhadap
masalah yang dihadapinya.
Beranjak menuju dewasa, pengalaman
semasa remaja digunakannya untuk membuat solusi terbijak dari masalah yang ia
temukan. Dan inilah fase yang sering disebut fase matang. Masalah kesadaran
seharusnya sudah terpatri dalam akal di seluruh manusia. Namun apa yang
terjadi? Bukankah seringkali justru orang dewasa tidak memiliki kesadaran.
Terdapat kalimat terkenal “umur
hanyalah angka”, maka inilah yang sangat tepat untuk menggambarkan seseorang
yang sudah berumur, namun tidak memiliki kesadaran
dalam dirinya. Kesadaran apa yang dimaksud oleh saya? Mengapa kesadaran menjadi
sebuah masalah? Maka untuk memperjelas, kesadaran yang saya maksud ialah kesadaran
terhadap lingkungan, kesadaran terhadap dunia, kesadaran terhadap alam.
Kesadaran terhadap lingkungan,
merupakan hal yang sangat dibutuhkan orang dewasa, namun tak jarang, untuk
kesadaran hal kecil seperti membuang sampah, seorang yang berkepala tiga abai,
dan membuang sampah seakan dunia adalah miliknya.
Seluruh media massa pasti pernah
memberitakan masalah ini, masalah bumi di ambang kehancuran. Manusia dipaksa
untuk sadar oleh alam, bumi sedang tidak baik-baik saja. Suhu bumi naik drastis,
berjuta-juta ton es di kutub mencair. Masalah ini tentu bukan ada pada fokus
permasalahan seorang anak di bangku sekolah, masalah ini ditujukan untuk
seluruh umat manusia tentunya, bagi mereka yang dapat berpikir dengan leluasa,
siapa lagi kalau bukan orang dewasa.
Kesadaran dibangun, dipupuk semenjak kecil. Orang tua dituntut
untuk menyadarkan anaknya tentang dunia. Maka, rusaklah seorang manusia apabila
tidak memiliki kesadaran, hal ini berimbas kepada lingkungan.
Seorang Dr pernah berkata dalam
sebuah seminar lingkungan “bumi ini akan hancur dalam waktu 150 tahun kedepan,
aslinya para ilmuwan sudah pesimis dengan bumi saat ini”. Satu hal yang menarik
dari perkataan ini di telinga saya, ilmuwan saja sudah pesimis, apalagi kita sebagai
seorang manusia biasa.
Seorang komika berkata “harapan
akan selalu ada bagi mereka yang selalu mencoba”, penulis mengamini kalimat
komika. Akan selalu ada harapan bagi mereka yang mencoba, maka berpikirlah
sebuah kelompok yang bertempat di Sumatra Utara.
Apa sumber masalah yang ada di
bumi ini?, kesadaran manusia tentang lingkungan, dalam hal yang lebih besar,
kesadaran tentang lingkungan ini merambat kepada pengambil kebijakan. Orientasi
manusia umum ialah “kapitalis”, manusia mengejar keuntungan, bukan sebuah
kesalahan orientasi, akan tetapi ketika keuntungan yang menghalalkan segala
cara termasuk merusak lingkungan, merupakan sebuah kesalahan besar.
Suhu bumi naik, Polusi dimana-mana,
berdasarkan riset para ilmuan, perubahan iklim saat ini disebabkan oleh sebuah pabrik-pabrik
besar yang tak melakukan riset mengenai dampak limbah pabrik terhadap lingkungan
dan akhirnya berefek pada gas rumah kaca, yaitu terjebaknya panas matahari di
dalam lapisan ozon.
Indonesia sebagai salah satu
negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-empat di dunia, naasnya Indonesia ialah
menyumbang banyak dalam perusakan ozon di dunia. Pertanyaan lain yang muncul, bagian
apa Indonesia yang menyumbang polusi?
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
salah satu jawabannya. PLTU merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar dan
menyebabkan lapisan ozon menipis, mengapa? PLTU menggunakan batubara dalam
menghasilkan energi listrik, dan masalah terbesar ialah, batubara yang dibakar
untuk menghasilkan uap, menimbulkan banyak emisi, antara lain; CO2 dan Fly ash.
Lalu, seperti yang saya bilang
diatas, sebuah kelompok di Sumatra Utara melakukan sebuah terobosan, sebuah
solusi jangka panjang yang dapat ditawarkan dalam mengatasi masalah besar yang
ada di dunia ini.
Apa solusinya? Solusi ini
menggunakan teknologi klasik, namun teknologi ini hampir ditinggalkan di Indonesia
sendiri, disebabkan anggapan ke-efesienan dari teknologi ini sangat kecil. Namun
ternyata, teknologi ini merupakan solusi jangka panjang, yaitu Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sebuah kelompok di Sumatra itu bernama
PT North Sumatra Hydro Energy. PT NSHE mengkonstruksi sebuah PLTA. PLTA ini
merupakan konsep dari teknologi pembangkit listrik tanpa adanya emisi (polusi).
Tanpa adanya emisi, secara tidak langsung akan berdampak kepada menurunnya angka
polusi dunia yang menjadi masalah saat ini.
PLTA Batang Toru namanya, sebuah
PLTA yang terletak di Sungai Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra
Utara. Mengapa PLTA Batang Toru tidak menghasilkan emisi? Seperti namanya, PLTA
menggunakan sebuah energi primer yang selalu ada, dan memiliki istilah nama, Energi
Baru Terbarukan (EBT), EBT yang digunakan disini ialah AIR.
Air yang menjadi sumber energi
dari PLTA. Apa yang digunakan dari airnya? PLTA Menggunakan potensi jatuh air,
dan Debit air untuk menghasilkan energi listrik. Hakikatnya PLTA menggunakan
teknologi yang simpel dengan langkah sebagai berikut, mengaliri air menuju jalur
artifisial, jalur tersebut menuju terowongan, dimana terdapat turbin dalam terowongan
tersebut yang bergerak oleh air. Energi kinetik (Gerak) yang dihasilkan, diubah
menjadi energi listrik, dan akhirnya air dialirkan kembali menuju aliran utama
sungai.
Apakah terdapat emisi dari proses
penghasil energi tersebut? tidak ada, hanya menggunakan air yang mengalir sebagai
sarana utama mendapat energi listrik. Itulah EBT, sebuah solusi jangka panjang yang
dapat memperpanjang usia bumi, solusi ini menjadi sebuah bentuk nilai dari
masalah kesadaran.
Indonesia kekurangan orang yang
sadar akan lingkungan. PLTA yang diinisiasi oleh PT NSHE merupakan salah satu
langkah dari selamatnya Cita-cita Wahri dan juga Bege yang duduk di bangku
sekolah dasar. Mungkin hanya sekedar PLTA, namun PLTA ini bukan hanya sekedar
PLTA, namun juga menjadi sebuah pionir masalah utama kesadaran untuk selamatnya bumi yang kita cintai, bukan hanya 150
tahun kedepan, namun untuk waktu yang panjang kedepan.
Pionir dalam menjaga alam sudah di awali oleh PLTA, mungkin merupakan hal yang sangat besar, namun bagi perseorangan, sangatlah mudah bagi kita dalam menjaga lingkungan ini dengan sadar akan seluruh tindakan kita yang berdampak pada lingkungan. Jangan sampai pionir besar sudah digaungkan, namun sadar masih belum terpatri dalam diri kita.
Komentar
Posting Komentar