BAJU
Tidak
besar, hanya 2x2,5 meter ukuran kamarnya Bobi, tilam berdempetan dengan dinding
utara yang setiap Bobi pergi, tilam diangkat dan disenderkan ke dinding, pintu
berada di sebelah timur disamping jendela. Tidak ada perabot yang serba guna,
hanya terdapat sebuah koper lusuh tempat dirinya menaruh segala pakaian. Yang
menarik ialah, selain pakaian safari sehari-harinya, baju sehari-harinya hampir
seluruhnya berwarna kuning terang. “siapa tau ada sesuatu, laut kan warna nya
biru, nah berkebalikan sama baju kuning, jadi biar mudah nandain ahaha” sela
ibunya di kala senggang.
Senin pagi
bulan ke-12 kedatangan Bobi, dengan semangatnya yang seakan-akan dapat
menjungkir balikan seisi dunia dengan telapak tangan, Bobi riang menaiki sepeda
federal menuju kantor kecamatan, tempat dirinya mendapatkan pekerjaan
pertamanya. Setelah menempuh 4 tahun perjuaangan di sebuah sekolah kedinasan
yang serba mewah.
Nun-jauh
seperti cakrawala disana, keluarga bobi berharap pekerjaan pertamanya dari
dinas merupakan sebuah anugerah, mana ada ibu yang sanggup melepaskan anak
satu-satunya yang tersisa jauh dari sanak saudara, jauh dari pusat peradaban,
di pekerjaan di pulau perbatasan. Banyak yang dimasukkan kedalam koper sebelum
keberangkatan, namun tentu Bobi mengetahui dengan pasti bahwa barang-barang
tersebut akan menyusahkan untuk pergi ke pulau perbatasan.
“Bobi,
kamu pimpin apel pagi ini yaa,” suara ramah pak Camat menyambut persis setelah Bobi membuka pintu kantor.
“baik
siap pakk ehehehe” sambil membentuk posisi hormat seperti kebiasaannya.
Bukan,
bukan Bobi seorang yang menyukai keterlambatan, dirinya bahkan masuk 5 menit
sebelum jadwal kerja, namun memang beliau memiliki sebuah kebiasaan yang
terlampau rajin dibandingkan dengan kebanyakan orang dinegaranya, layaknya seorang
pemimpin sejati, beliau memahami betapa berharganya waktu.
Pak
Gugus namanya, sama sepertinya yang merupakan seorang rantauan, namun rantauan
generasi pertama yang dikirim oleh pemerintah ke daerah 3T, (Tertinggal,
Terdepan, Terpencil). Pada masa kemerdekaan Indonesia, sejatinya beliau
merupakan seseorang yang patut dianugerahi gelar pahlawan dalam artian lain.
“bapak dengar kamu pulang 1 pekan yang akan
datang ya bii?” setelah apel selesai, pembuka percakapan dimulai oleh pak Gugus
“oala,
ternyata bapak sudah tahu,” jawab Bobi sambil tersenyum kecil,
“iya
pak, sudah setahun tidak pulang, sekalian mau merayakan hari raya dirumah,
ehehe, izin pulang ya pak, cuti hari raya ditambah cuti tahunan saya.” Lanjut
bobi.
“siapa
yang tidak akan mengizinkan pekerja terbaik kita untuk merayakan hari raya
Bersama keluarga, boleh saja, urusan mudah itu” pak camat menjawab.
Dalam
hati bobi, ia kegirangan, karena mendapatkan restu dari orang tua (begitulah
bobi menganggap pak gugus) di perantauan.
“jangan
lupa membawa oleh-oleh ya bii.” Sambungnya lagi.
Bobi
telah menyiapkan segalanya bahkan masih satu pekan sebelum dirinya naik kapal
untuk perjalanan pulang. Sampailah pada hari H, bobi memakai baju kuning
terang, kontras dengan warna laut yang biru.
Di
dermaga, diantar oleh rekan-rekan dari kantor kecamatan, termasuk pak Gugus,
kapal membunyikan terompet besarnya tanda akan melepas jangkar.
Kejadian
naas itu diketahui oleh keluarga bobi satu pekan setelah kapal karam ditengah
lautan diterjang badai besar yang terjadi 100 tahun sekali. ibu bobi segera
terbang ke kota terdekat dari lokasi kapal karam. Karena memang membutuhkan 10
hari dari pelabuhan awal, sampai ke pelabuhan tujuan, perkiraan kapal tenggelam
di tengah luasnya samudera hindia.
Sambil
menatap pantai di sore hari, hari ke-10 setelah karamnya kapal. Berkatalah
ibunya kepada alam “bobi anakku, terimakasih telah mengabdi pada nusa bangsa
dan negara, bahkan sampai saat ini ibu mendoakan dirimu selamat di tengah
luasnya samudera, andaipun anakku sayang sudah tiada, tolong berikan petunjuk
kepada kami. Anakku, pasti dirimu menggunakan baju terang, maka semoga dengan
baju terang tersebut, tim penyelamat dapat menemukan mu.”
Komentar
Posting Komentar