Indonesia Sentris, Mengurai Pajak dan Distribusi Keadilan
Oleh: Fatih Fathan Mubina
Negara ini
rakus, 2023 lalu Indonesia mencatat sebanyak 82% pendapatan bersumber dari
pajak. Pajak menjadi roda penghidupan rumah tangga Indonesia yang artinya
apabila rakyat memutuskan tidak membayar pajak, maka hancurlah Republik
Indonesia.
Pendapatan
negara yang berasal dari pajak menjadi problematika bagi banyak orang termasuk
teman atau keluarga kita di dalamnya. Secara garis besar manusia tidak
menginginkan sesuatu yang tidak menguntungkan secara langsung. Pajak merupakan
salah satu program pemerintah yang mendatangkan manfaat secara tidak langsung.
Pendapatan negara yang mayoritas berasal dari pajak digunakan untuk membangun
infrastruktur, menyejahterakan rakyat dan memastikan keberlanjutan Indonesia.
Indonesia yang
memiliki 17 ribu lebih pulau harus menaruh perhatian yang lebih terhadap akses
seluruh pulau dan bukan hanya lima pulau besar yang notabene lima pulau besar
itupun masih terpusat di Pulau Jawa. Sebagai seseorang yang berasal dari pulau
Jawa dan pernah pergi keluar Pulau Jawa, maka dapat saya aminkan bahwa
Indonesia masih jawa sentris.
Pendapatan
negara inilah yang berfungsi sebagai konektor setiap wilayah setiap desa setiap
pulau di Indonesia atau seperti itulah idealnya. Maka seperti yang
dicita-citakan oleh founding father
dan termaktub dalam Pancasila, pajak merupakan salah satu tangan menggapai
mimpi Indonesia yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Masyarakat
tidak merasakan secara langsung bagaimana manfaat dari pajak oleh karena itu
lahirlah masalah orang tidak mau membayar pajak, bukan karena tidak mampu
melainkan tidak mau. Salah satu program untuk menggapai mimpi Indonesia yang
berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah tol laut.
Dikutip dari
Kompas.com, tol laut adalah suatu bentuk konektivitas antar wilayah melalui
optimalisasi perhubungan laut untuk mendukung berbagai kepentingan nasional.
Bagi masyarakat di Pulau Jawa, tol laut hanyalah kicauan pemimpin negeri.
Berbeda bagi
masyarakat di Timur sana, tol laut bisa jadi sebuah jalan yang mereka tunggu
setelah sekian lama berkutat dengan harga barang yang melangit. Harga barang
seperti sabun atau pembersih pakaian harian tidak terasa mahal oleh masyarakat
jawa karena distribusi dari pra-produksi ke rumah paling banyak melewati 8
tangan.
Lain cerita
dengan masyarakat di Maluku atau Papua yang harus membayar seribu rupiah sampai
dengan lima ribu rupiah lebih mahal untuk satu produk pangan misalnya, setelah
melewati lebih dari sebelas tangan terhitung dari bahan baku sampai ke
pengecer. Kesadaran akan cita-cita luhur Indonesia harus dipahami oleh seluruh
rakyat agar Indonesia yang berkeadilan dapat tercapai tanpa adanya rasa enggan
untuk membayar pajak.
Tol laut
dirasakan oleh masyarakat kepulauan secara tidak langsung dan dapat saya
mengerti bagaimana oknum-oknum yang enggan membayar pajak akan terus ada. Rasa
keberlanjutan tidak terdapat dalam nurani dan terdapat probabilitas lain yaitu
sedikitnya pemahaman terhadap manfaat pajak secara makro.
Tol laut hanya
salah satu dari berbagai pemanfaatan pendapatan negara. Beralih dari tol laut,
mencerdaskan kehidupan bangsa juga menjadi tujuan didirikannya Indonesia yang
tercantum dalam alinea ke-4 UUD 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan lewat
banyak hal, salah satunya pendidikan formal yang dijalankan oleh Indonesia saat
ini yang mengadopsi dari pendudukan Jepang.
Pemerintah
menerapkan peraturan yang mengatur wajib belajar 12 tahun, belajar dan duduk
dibangku sekolah selama 12 tahun mengandalkan uang sendiri tidak selalu mudah.
Maka pemerintah membuat satu program dalam rangka mewujudkan 12 tahun wajib
belajar dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau yang kini disebut
Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Dari mana
datangnya dana BOSP? Tentu dari APBN yang muasalnya pajak seluruh rakyat
Indonesia. Dengan bayar pajak, secara tidak langsung masyarakat telah
mewujudkan cita-cita luhur Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Operasional
sekolah yang di back-up oleh dana
BOSP setidaknya mencakup beberapa hal yang utama dalam pendidikan, sehingga
mempermudah pemerataan wajib belajar 12 tahun di Indonesia. Tidak hanya
golongan menengah keatas yang bisa mendapatkan akses terhadap pendidikan tetapi
juga golongan bawah yang berhak mendapatkan pendidikan dengan merata. Perbedaan
yang terjadi adalah tentang bagaimana akses terhadap pendidikan yang eksklusif
yang mungkin hanya bisa diraih oleh golongan atas sedangkan golongan bawah
menerima bare minimum dari sebuah
pendidikan.
Tujuan dari
pendidikan adalah kesadaran, kesadaran mencakup banyak hal dan salah satunya
menjadi orang yang taat akan peraturan. Orang yang taat peraturan menjadi orang
yang taat pajak dan memproduksi lebih banyak generasi yang cerdas mendatang
sehingga keberlanjutan dari pajak sebagai pendapatan negara terbesar yang
menjadi Dana BOSP akan terus berjalan. Tidak seperti tol laut, Penulis meyakini
wajib pendidikan 12 tahun lebih mudah dipahami oleh banyak orang termasuk
masyarakat di Jawa untuk menyadarkan manfaat pajak.
Poin ketiga
dari manfaat pajak adalah asuransi kesehatan. Mengutip dari detik.com, Presiden
Joko Widodo mengungkapkan sebanyak 267 juta masyarakat sudah
menggunakaan/memiliki BPJS Kesehatan yang berarti 95% dari total penduduk
Indonesia sudah memiliki asuransi kesehatan dan sebanyak 96,8 juta peserta
iurannya ditutup oleh anggaran APBN. BPJS kesehatan tentu lebih umum dan dapat
dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat dimanapun ia berada yang sewaktu-waktu
tertimpa musibah.
Asuransi
kesehatan menjadi bentuk paling mendasar sebagai kewajiban dari pemerintah juga
sebagai hak warga negara yang perlu dipenuhi. Apabila memiliki hak, tentu ada
kewajiban, kewajiban warga negara ialah membayar pajak sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
Tiga proyek
pemerintah yang telah disebutkan oleh saya di atas yaitu tol laut, dana BOSP,
dan asuransi BPJS Kesehatan memang tidak seluruhnya ditanggung oleh APBN. BPJS
Kesehatan memiliki investasi begitu juga tol laut yang sebagian besar dikelola
oleh swasta. Kehadiran negara dalam memulai proyek besar dan meratakan
kesejahteraan rakyat dari Sabang sampai Merauke digerakkan oleh roda besar
bernama pajak.
Pajak memang
rakus, empat perlima bagian dalam rangka membuat masyarakat sejahtera diambil
perannya oleh pajak sebagai sumber pendapatan negara. Manfaat yang dihasilkan
oleh pajak tidak langsung berdampak, akan tetapi proses pajak hingga dirasakan
oleh masyarakat seperti air laut. Air sungai berkelok-kelok dan panjang akhirnya
bermuara di lautan nan penuh manfaat bagi seluruh masyarakat.
Komentar
Posting Komentar